Pada Senin 25 Mei 2026, Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik menyampaikan rencana strategis untuk mendorong emiten Indonesia agar kembali masuk ke dalam indeks global, menyusul keluarnya sejumlah saham domestik dari daftar acuan internasional pada rebalancing MSCI dan FTSE Mei 2026.
"Kami setelah ini akan melihat perusahaan-perusahaan tercatat yang potensial untuk bisa masuk kepada indeks-indeks global. Akan kami ajak diskusi bagaimana kita bersama-sama menambah jumlah perusahaan tercatat yang bisa masuk ke dalam indeks global," ujar Jeffrey di Gedung BEI Jakarta. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks yang sensitif, mengingat IHSG sudah melemah sekitar 10% dari posisi 6.763 menjadi 6.162 poin pada perdagangan Jumat 22 Mei 2026.
BEI menargetkan diskusi proaktif dengan emiten yang memenuhi kriteria awal seperti kapitalisasi pasar dan tingkat likuiditas saham yang memadai untuk masuk kembali ke indeks global. Walaupun belum merinci jadwal pasti, Jeffrey menegaskan bahwa proses penjajakan ini akan dilakukan dalam waktu dekat: "Dalam waktu yang tidak lama, kami belum bisa menyampaikan waktunya, tetapi itu sedang kami siapkan."
Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan Financial Times Stock Exchange (FTSE) Russell adalah dua penyedia indeks global utama yang menjadi acuan bagi investor institusi dan fund manager internasional. Ketika sebuah saham keluar dari indeks acuan, sebagian dana pasif global yang mengikuti indeks tersebut secara otomatis melakukan penyesuaian portofolio, termasuk mengurangi posisi pada saham yang dikeluarkan.
Nilai dana Equity ETF yang terhubung langsung dengan indeks MSCI saja dilaporkan telah menyentuh angka USD2,4 triliun. Skala ini menjelaskan mengapa setiap perubahan komposisi indeks dapat memicu pergerakan harga saham yang material dalam jangka pendek, khususnya selama periode "rebalancing window" antara pengumuman dan tanggal efektif.
Bagi pasar modal Indonesia, masuk dan keluarnya saham dari indeks global memiliki dampak ganda. Pertama, dampak langsung berupa arus dana keluar atau masuk sebesar bobot saham terkait dalam indeks. Kedua, dampak tidak langsung berupa persepsi global terhadap pasar Indonesia secara keseluruhan, yang dapat mempengaruhi alokasi modal jangka panjang dari investor institusi.
Pada 12 Mei 2026, MSCI resmi mengumumkan hasil tinjauan indeks Mei 2026 dengan dampak signifikan terhadap pasar Indonesia. Sebanyak enam saham Indonesia dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index, sementara 13 saham tambahan dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Index. Perubahan komposisi ini akan berlaku efektif setelah penutupan perdagangan tanggal 29 Mei 2026.
Enam saham yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Saham AMRT, meskipun keluar dari indeks utama, dipindahkan ke MSCI Small Cap Index.
| Ticker | Nama Perusahaan | Indeks Sebelumnya |
|---|---|---|
| AMMN | PT Amman Mineral Internasional | MSCI Global Standard |
| BREN | PT Barito Renewables Energy | MSCI Global Standard |
| TPIA | PT Chandra Asri Pacific | MSCI Global Standard |
| DSSA | PT Dian Swastatika Sentosa | MSCI Global Standard |
| CUAN | PT Petrindo Jaya Kreasi | MSCI Global Standard |
| AMRT | PT Sumber Alfaria Trijaya | MSCI Global Standard ke Small Cap |
Sementara itu, 13 saham yang dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Index meliputi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), dan PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA). Kemudian juga PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).
Tidak hanya MSCI, FTSE Russell juga melakukan rebalancing yang berdampak pada saham Indonesia. Pada hasil tinjauan kuartalan Mei 2026 yang efektif 22 Juni 2026, FTSE mengeluarkan empat saham Indonesia dari FTSE Global Equity Index Series (GEIS). Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dikeluarkan dari kategori large cap setelah masuk dalam kategori high shareholding concentration (HSC).
Tiga saham lainnya yang dikeluarkan FTSE adalah PT Anugerah Atrium Asia Tbk (DAAZ), PT Hotel Indonesia Natour Tbk (HILL), dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA). Saham DAAZ dikeluarkan karena gagal memenuhi persyaratan free float minimum, sementara HILL dan MLIA dikeluarkan setelah gagal lolos proses pemantauan FTSE.
Untuk DSSA, indikasi keluarnya saham dari FTSE Large Cap sebenarnya sudah disinyalkan oleh FTSE Russell dalam Index Treatment for the June 2026 Index Review yang dirilis pada 13 Mei 2026. FTSE menyatakan bahwa perusahaan dengan status konsentrasi kepemilikan tinggi akan dikeluarkan dari indeks pada tinjauan berikutnya. Tingkat konsentrasi kepemilikan DSSA mencapai 95,76% per 31 Maret 2026 berdasarkan data BEI.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia memperkirakan bahwa perubahan komposisi MSCI kali ini berpotensi menekan bobot Indonesia di indeks MSCI Emerging Asia sekitar 10 basis poin, dari 0,9% menjadi 0,8%. Estimasi ini berpotensi memicu arus keluar dana asing sekitar US$1 miliar hingga US$1,7 miliar dari pasar saham Indonesia.
Efek penurunan bobot Indonesia juga dapat berdampak lebih luas ke saham-saham berkapitalisasi besar lainnya, termasuk sektor perbankan, karena investor global pasif berpotensi mengurangi eksposur pada saham acuan untuk menyesuaikan alokasi portofolio terhadap Indonesia secara keseluruhan. Meskipun saham yang dikeluarkan mayoritas dari sektor energi dan material seperti AMMN, BREN, dan TPIA, dampak transmisi ke sektor lain tidak dapat diabaikan.
Tekanan pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sempat melewati level Rp17.500 per dolar AS turut memperbesar potensi keluarnya dana asing. Kombinasi antara rebalancing indeks dan pelemahan rupiah menciptakan sentimen negatif berlapis yang menekan IHSG dalam periode singkat.
Pjs Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik dalam pernyataannya pada 25 Mei 2026 menekankan beberapa poin strategis. Pertama, BEI akan mengidentifikasi perusahaan-perusahaan tercatat yang potensial untuk masuk kembali ke dalam indeks global. Kedua, BEI akan mengajak emiten potensial untuk berdiskusi tentang langkah-langkah yang diperlukan agar bisa memenuhi kriteria masuk indeks.
Strategi ini menunjukkan pendekatan proaktif dari otoritas bursa, bukan menunggu emiten secara organik memenuhi kriteria indeks. BEI akan berperan aktif sebagai fasilitator dalam mempersiapkan emiten potensial untuk memenuhi standar penyedia indeks global. Hal-hal yang biasanya menjadi titik perhatian penyedia indeks meliputi free float yang memadai (umumnya minimum 15-25%), likuiditas perdagangan harian, transparansi tata kelola, dan kualitas pelaporan keuangan.
Selain itu, BEI juga akan mengacu pada ketentuan yang ditetapkan oleh penyedia indeks global dalam menentukan kandidat emiten. Hal ini menunjukkan bahwa BEI memahami bahwa setiap penyedia indeks memiliki metodologi dan kriteria yang berbeda. MSCI, FTSE Russell, S&P Dow Jones, dan provider lainnya masing-masing memiliki rule book sendiri yang harus dipahami dan dipenuhi oleh emiten.
Jeffrey Hendrik menjelaskan dua kriteria awal yang akan menjadi pertimbangan utama BEI dalam mengidentifikasi emiten potensial untuk masuk indeks global: kapitalisasi pasar dan tingkat likuiditas saham. Emiten yang berada dalam rentang kriteria tersebut dinilai memiliki peluang untuk memenuhi syarat masuk kembali ke dalam indeks global.
Untuk MSCI Global Standard Index, kriteria umum meliputi free float market cap minimum yang biasanya berada di kisaran USD2,5 hingga USD3 miliar (bervariasi sesuai dengan adjustment market). Untuk FTSE Global Equity Index Series, kriteria minimum free float adalah 15% untuk pasar emerging markets seperti Indonesia. Selain itu, kriteria likuiditas perdagangan harian rata-rata (average daily trading value) juga harus memenuhi ambang batas tertentu.
Setelah 11 saham Indonesia yang tetap bertahan dalam MSCI Global Standard Indexes, daftar tersebut terdiri atas saham-saham seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Astra International Tbk (ASII), yang merupakan emiten-emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar dan likuiditas tertinggi di BEI. Saham-saham ini menjadi benchmark de facto bagi profil emiten yang ideal untuk masuk indeks global.
Meskipun BEI belum mengumumkan nama-nama spesifik emiten yang akan didekati, analisis profil pasar dapat memberikan gambaran tentang kandidat yang paling memungkinkan. Kandidat potensial umumnya mencakup emiten yang sudah berada di indeks Small Cap dan memiliki tren pertumbuhan kapitalisasi serta likuiditas yang positif.
Selain itu, perbaikan kondisi free float juga menjadi salah satu faktor kunci. Beberapa emiten besar di BEI saat ini memiliki free float yang terbatas karena konsentrasi kepemilikan oleh founder atau keluarga pendiri. Apabila para pemegang saham mayoritas bersedia melepas sebagian kepemilikan ke pasar terbuka, emiten tersebut dapat memenuhi kriteria minimum free float dari penyedia indeks global.
Bagi BEI, tantangan terbesar dalam proses ini adalah mengkoordinasikan kepentingan antara emiten potensial, pemegang saham mayoritas, dan keinginan untuk meningkatkan visibilitas pasar saham Indonesia secara global. Diperlukan pendekatan yang sensitif terhadap kepentingan bisnis masing-masing pihak.
Bagi investor, perkembangan ini memiliki beberapa implikasi penting. Pertama, periode rebalancing 29 Mei 2026 untuk MSCI dan 22 Juni 2026 untuk FTSE akan menjadi periode volatilitas tinggi untuk saham-saham yang dikeluarkan dari indeks. Investor sebaiknya menahan diri dari aksi spekulatif jangka pendek dan menunggu hingga rebalancing selesai untuk mereview strategi portofolio.
Kedua, BEI yang aktif memfasilitasi emiten potensial untuk masuk indeks global merupakan sinyal positif bagi outlook pasar modal Indonesia. Bila program ini berhasil menambah jumlah saham Indonesia di indeks global dalam periode 2027-2028, hal ini akan meningkatkan bobot Indonesia di MSCI Emerging Asia dan menarik kembali arus dana asing yang sekarang keluar.
Ketiga, beberapa proyeksi menunjukkan bahwa IHSG dapat kembali ke kisaran 7.600-7.800 pada akhir tahun 2026 dengan asumsi masalah MSCI dan FTSE Russell sudah selesai dan konflik di Timur Tengah mereda. Outlook ini relatif optimistis namun memerlukan beberapa katalis positif untuk terwujud, termasuk berhasilnya inisiatif BEI dalam mendorong saham potensial masuk indeks global.
Keempat, sebagai investor jangka panjang, fokus tetap harus pada fundamental emiten dan bukan pada momentum jangka pendek terkait inklusi atau eksklusi indeks. Saham yang fundamentalnya kuat akan tetap menarik bagi investor selama profil pertumbuhan dan profitabilitas dipertahankan, terlepas dari status indeksnya.
Penutup. Pengumuman strategi BEI untuk mendorong saham Indonesia kembali masuk indeks global pasca-rebalancing MSCI dan FTSE Mei 2026 adalah respons yang tepat waktu dan strategis. Berhasil tidaknya inisiatif ini akan tergantung pada kemampuan BEI untuk mengidentifikasi kandidat emiten yang tepat, memfasilitasi perbaikan free float dan likuiditas, serta menjaga konsistensi tata kelola perusahaan yang sesuai dengan standar global. Investor sebaiknya memantau perkembangan ini sebagai indikator kesehatan struktural pasar modal Indonesia ke depan.
Sumber dokumen:
1. Bloomberg Technoz, "BEI Upayakan Saham RI Kembali Masuk Jajaran Indeks Global", 25 Mei 2026, https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/109980/bei-upayakan-saham-ri-kembali-masuk-jajaran-indeks-global
2. MSCI Global Standard Indexes May 2026 Review, diumumkan 12 Mei 2026
3. FTSE Russell June 2026 Quarterly Review, efektif 22 Juni 2026
4. Samuel Sekuritas Indonesia, Analisis Dampak Rebalancing MSCI Mei 2026
5. Kontan, "Hasil Rebalancing MSCI Mei 2026: AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, AMRT Terdepak"
6. Liputan6, "FTSE Keluarkan Empat Saham Indonesia dari Indeks Global Equity"
Artikel ini adalah analisis editorial Avenir Research dan bukan rekomendasi investasi. Pembaca dianjurkan melakukan analisis mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.